Jumat, 23 April 2021

Konsep dan Prinsip Integrasi Ilmu

A. Pengertian Integrasi Ilmu

Integrasi berasal dari bahasa Inggris yaitu pada kata "integration" artinya kesempurnaan atau keseluruhan. Menurut Kintowijoyo, inti dari integrasi adalah upaya menyatukan (bukan sekedar menggabungkan) wahyu Tuhan dan temuan manusia (ilmu-ilmu integralistik), tidak mengucilkan Tuhan (sekularisme) atau mengucilkan manusia (other worldy asceticisme).

Integrasi ilmu merupakan cara pandang tertentu atau model pendekatan tertentu terhadap ilmu pengetahuan yang bersifat menyatukan.

B. Urgensi Integrasi Ilmu

1. Berpadunya etika (akhlak) dan aturan-aturan substantif (ilmu keislaman) dengan ilmu terapan (ilmu pengetahuan).

2. Ilmu menjadi satu ikatan yang saling mengisi dan melengkapi baik perspektif, terapan, maupun nilai etik/akhlak (ethic value)

3. Setiap disiplin ilmu tersebut menjadi terintegrasi, lebih komprehensif, objektif, holistic (berfikir secara menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek tingkah laku) serta sarat dengan nilai (value) dan kemanfaatan (ziyadah al khair) yang menunjang objektivitas ilmu dan kualitas hidup manusia.

C. Prinsip atau Nilai Dasar Integritas Ilmu

Mengacu pada pembahasan tim dosen UIN, paradigma integrasi ilmu dapat dirinci menjadi: 

1. Paradigma ilmu integratif (menjadi bagian dari keseluruhan); 

2. Paradigma integrasi ilmu integralistik; atau 

3. Paradigma ilmu dialogis, yakni bersifat terbuka  untuk sharing atau mengapresiasi keberadaan disiplin ilmu lainnya. Yang terakhir ini bisa disebut dengan paradigma integrasi ilmu dialogis.

Terdapat prinsip utama dalam integrasi ilmu yaitu Tauhid dan prinsip pendukung dalam integrasi ilmu ada, Inklusivitas (menempatkan diri ke dalam cara pandang orang lain ), Dialogis, Relevansi, Objektivikasi, Kebenaran, Keadilan, Istislah (Kemaslahatan), Holistik (keterkaitan antar ilmu), Kelangsungan dan kesinambungan (sustainability).

Rabu, 07 April 2021

Perkembangan Tradisi Keilmuan

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Pada perkembangan ilmu-ilmu Islam mengalami kemajuan yang pasang surut. Ada masa dimana mencapai puncak kejayaan dan ada masa dimana mengalami kemunduran.

Masa Keemasan

Sejarah politik dunia Islam terbagi dalam tiga periode, yaitu; periode klasik (650-1250 M), periode pertengahan (1250-1800 M), dan periode modern (1800-sekarang). Pada periode klasik (650-1250 M) Islam mengalami masa kejayaan yang ditandai dengan etos keilmuan yang sangat tinggi yang dtujukkan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang kehidupan.

Pada gelombang Hellenisme, akselerasi perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam sangat tampak. Adanya gerakan penerjemahan ilmu-ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab, yang dipelopori oleh Khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan mencapai puncaknya pada masa khalifah al-Makmun (813-833 M).

Penerjemahan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani oleh umat Islam bersifat selektif dan kreatif. Yang diterjemahkan hanyalah ilmu-ilmu yang memberikan kemanfaatan bagi umat. Setelah banyaknya ilmu pengetahuan yang dicari maka muncullah kalangan umat Islam para filosof dan ilmuwan yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, sebagai contoh:

- Bidang kedokteran

al-Rāzī (866-909 M), Ibn Sinā (wafat 926 M), Ibn Zuhr (1091- 1162 M), Ibn Rusyd (wafat 1198 M), dan al-Zahrāwī (wafat 1013 M).

- Bidang filsafat

al-Kindī (801-862 M), al-Farābī (870- 950 M), al-Ghazālī (1058-1111 M), dan Ibn Rusyd (wafat 1198 M).

- Bidang ilmu pasti dan ilmu pengetahuan alam

alKhawarizmī (780-850 M), al-Farghānī (abad ke-9), an-Nairāzī (wafat 922 M), Abū Kāmil (abad ke-10), Ibrahim Sinān (wafat 946 M), alBirūnī (973-1051 M), al-Khujandī (lahir 1000 M), al-Khayyānī (1045- 1123 M), dan Nashīrudin al-Thūsī (1200-1274 M).

- Bidang hukum Islam

Lahirnya empat madzhab; Abū Hanīfah (wafat 767 M), Anās ibn Mālik (wafat 795 M), Muhammad ibn Idrīs al-Syāfiī (wafat 819 M), dan Ahmad ibn Hambāl (wafat 855 M).

- Bidang hadits

Bukhārī (wafat 870 M), Muslim (wafat 875 M), Ibn Mājah (wafat 886 M), Abū Dāwud (wafat 886 M), al-Tirmidzī (wafat 892 M), dan al-Nasā’ī (wafat 916 M).

- Bidang teologi

Abū al-Hudzail alAllāf, Ibrahim al-Nazzām, Abū al-Hasan al-Asy’ārī, dan Abū Manshūr al-Māturīdī

Penyebab Kemunduran Islam

Surutnya gerakan pemikiran dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam dapat dilihat dari sejumlah kondisi berikut:

- Etos keilmuan menjadi redup

Pintu ijtihad menjadi tertutup sebaliknya gerakan taqlid mulai menjamur. Akibatnya perkembangan ilmu menjadi stagnan. Karya ulama klasik dipandang sebagai sesuatu yang final dan tidak boleh disentuh, kecuali sekedar dibaca, dipahami dan dipraktikkan.

- Ilmu agama Islam dimaknai secara sempit dan terbatas

Muncul pemilahan ilmu agama dan ilmu umum, sesuatu yang tidak pernah terjadi di era klasik. Ilmu agama dibatasi hanya pada ilmuilmu ukhrāwi seperti; Ilmu Kalam, Fiqh, Tafsir, Hadīts, dan Tasawuf. Sedangkan ilmu-ilmu duniawi, seperti kedokteran, pertanian, kimia, fisika, disebut ilmu umum. Umat Islam lebih tertarik mempelajari ilmu agama ketimbang ilmu umum, karena ilmu yang disebut terakhir dipandang sebagai ilmu sekuler. Padahal untuk mengarungi hidup di dunia dibutuhkan penguasaan ilmu-ilmu duniawi pula.

 

 

 

Minggu, 04 April 2021

Pengertian dan Kedudukan Disiplin Ilmu dalam Islam

Makhluk Allah paling sempurna adalah manusia, yang membedakan manusia dengan makhluk Allah lainnya adalah terletak pada akal. Allah membekali manusia dengan akal agar manusia dapat menjadi khalifah di bumi sebagai rahmatan lil'alamin (rahmat bagi seluruh alam). Dengan diberikannya akal, manusia dapat mengembangkannya dengan mencari ilmu pengetahuan. 

Landasan Ilmu Pengetahuan

Ilmu berasal dari bahasa Arab yaitu ‘ilm (‘alima-ya’lamu-‘ilm), yang berarti pengetahuan (al-ma’rifah). Al-Qur’ān dan al-Hadīts merupakan wahyu Allah yang berfungsi sebagai petunjuk bagi umat manusia, termasuk dalam hal ini adalah petunjuk tentang ilmu dan aktivitas ilmiah.  

Q.S Al-Alaq (96) : 1

اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِىۡ خَلَقَ‌ۚ 

Artinya : Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.

Pada Surah Al-Alaq (96) ayat 1 diperintahkan agar manusia membaca. Dalam hal tersebut merupakan perintah untuk mencari segala sesuatu yang tidak diketahui oleh manusia, maka dengan membaca manusia akan mendapatkan ilmu pengetahuan.

Q.S Al-Alaq (96) : 5

عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡؕ

Artinya : Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Manusia adalah makhluk yang potensial untuk berkarya melalui ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari Allah. Manusia dapat belajar melalui alam sekitarnya yang telah Allah ciptakan.

Bahaya Epistemologi Sekuler

Penerapan metode ilmiah (scientific method) yang berwatak rasional dan empiris telah mengantarkan kehidupan manusia pada suasana modernisme. Pada perkembangan selanjutnya, modernisme melahirkan corak pemikiran yang mengarah pada rasionalisme, liberalisme, positivisme, materialisme, pragmatisme dan sekulerisme.

Apabila kejayaan Islam ingin dikembalikan dan dapat diraih kembali kemajuan ilmu pengetahuaannya, yang perlu serta harus segera dilakukan adalah reorientasi epistemologi Islam berdasarkan tauhid sebagaimana yang tergambar dari kejayaan pada masa tradisi Islam klasik. Yaitu, epistemologi yang berupa perpaduan antara aspek rasionalisme, empirisme, kasfy, rasionalisme kritis, positivisme dan fenomenologi dengan tetap berpangkal tolak pada Al-Qur’an sebagai keterangan dan petunjuk atas segala sesuatu.

Sumber : 
https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/tsaqafah/article/download/3/6




Minggu, 02 September 2018

Bulan tenggelam dalam lamunan

Bulan tenggelam dalam lamunan

Dirahasiakannya rindu
Merasakan kesenyapan malam
Meninggalkan setitik harapan
Bersabarlah bertabahlah
Adakah ruang untuk menyisipkan kata kata baru?
Dialah rindu
Aku baru mengenalinya saat hendak kau meninggalkan jejaknya
Siapa yang tau?
Kapan kita akan bertemu
Aku rindu