Perkembangan Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Pada perkembangan ilmu-ilmu Islam mengalami kemajuan yang pasang surut. Ada masa dimana mencapai puncak kejayaan dan ada masa dimana mengalami kemunduran.
Masa Keemasan
Sejarah politik dunia Islam terbagi dalam tiga periode, yaitu; periode klasik (650-1250 M), periode pertengahan (1250-1800 M), dan periode modern (1800-sekarang). Pada periode klasik (650-1250 M) Islam mengalami masa kejayaan yang ditandai dengan etos keilmuan yang sangat tinggi yang dtujukkan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang kehidupan.
Pada gelombang Hellenisme, akselerasi perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam sangat tampak. Adanya gerakan penerjemahan ilmu-ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab, yang dipelopori oleh Khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan mencapai puncaknya pada masa khalifah al-Makmun (813-833 M).
Penerjemahan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani oleh umat Islam bersifat selektif dan kreatif. Yang diterjemahkan hanyalah ilmu-ilmu yang memberikan kemanfaatan bagi umat. Setelah banyaknya ilmu pengetahuan yang dicari maka muncullah kalangan umat Islam para filosof dan ilmuwan yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, sebagai contoh:
- Bidang kedokteran
al-Rāzī (866-909 M), Ibn Sinā (wafat 926 M), Ibn Zuhr (1091- 1162 M), Ibn Rusyd (wafat 1198 M), dan al-Zahrāwī (wafat 1013 M).
- Bidang filsafat
al-Kindī (801-862 M), al-Farābī (870- 950 M), al-Ghazālī (1058-1111 M), dan Ibn Rusyd (wafat 1198 M).
- Bidang ilmu pasti dan ilmu pengetahuan alam
alKhawarizmī (780-850 M), al-Farghānī (abad ke-9), an-Nairāzī (wafat 922 M), Abū Kāmil (abad ke-10), Ibrahim Sinān (wafat 946 M), alBirūnī (973-1051 M), al-Khujandī (lahir 1000 M), al-Khayyānī (1045- 1123 M), dan Nashīrudin al-Thūsī (1200-1274 M).
- Bidang hukum Islam
Lahirnya empat madzhab; Abū Hanīfah (wafat 767 M), Anās ibn Mālik (wafat 795 M), Muhammad ibn Idrīs al-Syāfiī (wafat 819 M), dan Ahmad ibn Hambāl (wafat 855 M).
- Bidang hadits
Bukhārī (wafat 870 M), Muslim (wafat 875 M), Ibn Mājah (wafat 886 M), Abū Dāwud (wafat 886 M), al-Tirmidzī (wafat 892 M), dan al-Nasā’ī (wafat 916 M).
- Bidang teologi
Abū al-Hudzail alAllāf, Ibrahim al-Nazzām, Abū al-Hasan al-Asy’ārī, dan Abū Manshūr al-Māturīdī
Penyebab Kemunduran Islam
Surutnya gerakan pemikiran dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam dapat dilihat dari sejumlah kondisi berikut:
- Etos keilmuan menjadi redup
Pintu ijtihad menjadi tertutup sebaliknya gerakan taqlid mulai menjamur. Akibatnya perkembangan ilmu menjadi stagnan. Karya ulama klasik dipandang sebagai sesuatu yang final dan tidak boleh disentuh, kecuali sekedar dibaca, dipahami dan dipraktikkan.
- Ilmu agama Islam dimaknai secara sempit dan terbatas
Muncul
pemilahan ilmu agama dan ilmu umum, sesuatu yang tidak pernah terjadi di era
klasik. Ilmu agama dibatasi hanya pada ilmuilmu ukhrāwi seperti; Ilmu Kalam,
Fiqh, Tafsir, Hadīts, dan Tasawuf. Sedangkan ilmu-ilmu duniawi, seperti
kedokteran, pertanian, kimia, fisika, disebut ilmu umum. Umat Islam lebih
tertarik mempelajari ilmu agama ketimbang ilmu umum, karena ilmu yang disebut
terakhir dipandang sebagai ilmu sekuler. Padahal untuk mengarungi hidup di
dunia dibutuhkan penguasaan ilmu-ilmu duniawi pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar