Minggu, 04 April 2021

Pengertian dan Kedudukan Disiplin Ilmu dalam Islam

Makhluk Allah paling sempurna adalah manusia, yang membedakan manusia dengan makhluk Allah lainnya adalah terletak pada akal. Allah membekali manusia dengan akal agar manusia dapat menjadi khalifah di bumi sebagai rahmatan lil'alamin (rahmat bagi seluruh alam). Dengan diberikannya akal, manusia dapat mengembangkannya dengan mencari ilmu pengetahuan. 

Landasan Ilmu Pengetahuan

Ilmu berasal dari bahasa Arab yaitu ‘ilm (‘alima-ya’lamu-‘ilm), yang berarti pengetahuan (al-ma’rifah). Al-Qur’ān dan al-Hadīts merupakan wahyu Allah yang berfungsi sebagai petunjuk bagi umat manusia, termasuk dalam hal ini adalah petunjuk tentang ilmu dan aktivitas ilmiah.  

Q.S Al-Alaq (96) : 1

اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِىۡ خَلَقَ‌ۚ 

Artinya : Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.

Pada Surah Al-Alaq (96) ayat 1 diperintahkan agar manusia membaca. Dalam hal tersebut merupakan perintah untuk mencari segala sesuatu yang tidak diketahui oleh manusia, maka dengan membaca manusia akan mendapatkan ilmu pengetahuan.

Q.S Al-Alaq (96) : 5

عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡؕ

Artinya : Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Manusia adalah makhluk yang potensial untuk berkarya melalui ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari Allah. Manusia dapat belajar melalui alam sekitarnya yang telah Allah ciptakan.

Bahaya Epistemologi Sekuler

Penerapan metode ilmiah (scientific method) yang berwatak rasional dan empiris telah mengantarkan kehidupan manusia pada suasana modernisme. Pada perkembangan selanjutnya, modernisme melahirkan corak pemikiran yang mengarah pada rasionalisme, liberalisme, positivisme, materialisme, pragmatisme dan sekulerisme.

Apabila kejayaan Islam ingin dikembalikan dan dapat diraih kembali kemajuan ilmu pengetahuaannya, yang perlu serta harus segera dilakukan adalah reorientasi epistemologi Islam berdasarkan tauhid sebagaimana yang tergambar dari kejayaan pada masa tradisi Islam klasik. Yaitu, epistemologi yang berupa perpaduan antara aspek rasionalisme, empirisme, kasfy, rasionalisme kritis, positivisme dan fenomenologi dengan tetap berpangkal tolak pada Al-Qur’an sebagai keterangan dan petunjuk atas segala sesuatu.

Sumber : 
https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/tsaqafah/article/download/3/6




Tidak ada komentar:

Posting Komentar